Sejarah Jasa Percetakan Buku Murah

Jasa percetakan buku murah merupakan salah satu bentuk usaha jasa yang membutuhkan modal yang cukup besar untuk bisa menjalankannya. Alat cetak serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis tersebut harganya tidak bisa dibilang sedikit. Namun, jenis bisnis tersebut masih banyak diminati dan masih eksis dari dulu hingga sekarang. Kehadiran jasa percetakan buku di Indonesia tidak muncul begitu saja. Munculnya jasa percetakan buku atau lebih spesifik munculnya istilah percetakan harus melalui proses yang panjang. Dikutip dari Kompasiana dan Wikipedia melalui penerbit Dee Publish, sejarah percetakan dimulai pada abad ke-14 di Cina. Pada saat itu percetakan baru ditemukan di sana.

Sebelum itu, di abad pertama, Cina menemukan kertas. Lalu, di abad ke-11, Cina kembali menciptakan sesuatu yaitu moveable type dari tanah. Dua tahun setelah itu, negeri ginseng yaitu Korea tidak mau kalah. Mereka menciptakan moveable type dari perunggu. Penemuan mesin cetak oleh Cina pada waktu itu masih menggunakan simbol tertentu sehingga menyulitkan masyarakat dari negara lain untuk memahami aksara di moveable type  yang diciptakan bangsa Cina. Di belahan bumi lainnya, yaitu di Eropa, pada tahun 1440 seseorang bernama Johannes Gotenberg berhasil menyederhanakan mesin cetak penemuan Cina. Teknik cetak tersebut ditemukan di kota Mainz, Jerman yang merupakan sentra uang logam pada masa itu. Metode cetak yang diperkenalkan oleh Johannes terinspirasi dari uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.

Dari masa-masa itulah, percetakan buku akhirnya semakin maju dan berkembang dengan teknologi yang berbeda-beda. Di Indonesia, perkembangan percetakan atau penerbitan buku bertumbuh pesat. Berdasarkan statistik dari IKAPI pada tahun 2016 yang disampaikan oleh Dee Publish, terdapat 1.328 penerbit buku yang tersebar di Indonesia. Jumlah yang paling banyak berada di pulau Jawa selain DKI Jakara, yaitu 687 penerbit. Lalu, di Jakarta sendiri, terdapat penerbit sejumlah 504. Sisanya terdapat di luar pulau Jawa.

Data di atas menunjukkan bahwa perkembangan bisnis percetakan buku di Indonesia cukup pesat. Hal tersebut disebabkan karena minat untuk memproduksi buku dari beberapa kalangan yang ingin membuat tulisan sangat tinggi. Walaupun minat baca buku di Indonesia cukup rendah, namun hal tersebut bukan menjadi halangan bagi jasa percetakan untuk terus menjalankan bisnisnya.  Jasa percetakan buku terus berjalan sesuai dengan permintaan pasar, yang membutuhkan tulisannya dicetak dalam bentuk buku dan dicetak dalam jumlah banyak, terutama untuk kalangan pegiat sastra. Kalangan pegiat sastra acap kali lebih menyukai buku dalam bentuk cetak serta penulis-penulisnya pun seringkali lebih memilih menerbitkan buku dalam bentuk cetak dibanding dalam bentuk digital atau file elektronik. Ditambah, jumlah penulis karya sastra tidaklah sedikit. Hal itulah yang merupakan salah satu faktor untuk jasa percetakan agar tetap mempertahankan bisnisnya.